EKSISTENSI DAN PENTINGNYA PANCASILA BAGI MASYARAKAT INDONESIA DI ERA GLOBALISASI Vicky Megantara Wibowo Program Studi Diploma I Kepabeanan dan Cukai Politeknik Keuangan Negara STAN

EKSISTENSI DAN PENTINGNYA PANCASILA
BAGI MASYARAKAT INDONESIA DI ERA GLOBALISASI
Vicky Megantara Wibowo
Program Studi Diploma I Kepabeanan dan Cukai Politeknik Keuangan Negara STAN, Tangerang Selatan, Indonesia. ([email protected])
ABSTRAK
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia yang secara resmi telah disahkan oleh PPKI pada tanggal 8 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 merupakan sebuah fondasi bangsa Indonesia. Sebagai fondasi negara Indonesia, Pancasila digunakan sebagai landasan dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam segala aspek kehidupan. Pancasila sebagai ideologi dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan sebuah kristalisasi dari nilai nilai budaya, nilai agama, dan nilai sosial. Nilai dalam Pancasila memiliki seperangkat nilai, yaitu nilai keilahian, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai demokrasi, dan nilai keadilan. Kondisi bangsa Indonesia saat ini bisa diidentifikasi dengan melihat perilaku dan kepribadian masyarakat Indonesia, sebagaimana yang tercermin dalam kehidupan sehari hari. Munculnya globalisasi membuat koneksi global ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Globalisasi tidak bisa dielakkan. Munculnya globalisasi membuat seakan setiap negara tak ada batas. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan. Oleh karena itu, kita memperlukan Pancasila sebagai filter globalisasi dalam kehidupan sehari hari. Pentingnya membudayakan nilai nilai Pancasila tidak hanya sekedar pemahaman, namun harus dijalani dan diwujudkan dalam kehidupan oleh setiap individu dan seluruh masyarakat yang menumbuhkan kesadaran dan menerapkan sosial, kewarganegaraan, dan negara berdasarkan Pancasila.
Kata kunci :Pancasila, Ideologi, Globalisasi, Tantangan, Dampak.

PENDAHULUAN
Pancasila merupakan dasar Negara bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai dasar Negara, Pancasila lahir berdasarkan nilai-nilai budaya yang terkandung sejak zaman nenek moyang kita dahulu. Nilai-nilai tersebut lahir dan melekat secara tidak sengaja pada nenek moyang kita.Pancasila itu terdiri dari Panca dan Sila. Nama Panca diusulkan oleh Ir. Soekarno sedangkan nama Sila diusulkan oleh salah seorang ahli bahasa. Pancasila dirasakan sudah sempurna dan mencakup segala aspek pada Bangsa Indonesia.
Setelah puluhan tahun lahirnya Pancasila dari tahun 1945 hingga saat ini, Negara di dunia mengalami pengembangan yang pesat dalam berbagai bidang kehidupan. Masuknya era globalisasi menjadikan bangsa dunia hampir tidak memiliki batas. Dampak baik dan buruk dari globalisasi tentunya harus kita kaji bersama dengan selalu melandaskan Pancasila sebagai pedoman hidup masyarakat Indonesia dalam menghadapi segala permasalahan seiring perkembangan zaman. Kondisi bangsa saat ini mencerminkan adanya penyimpangan dari Pancasila tidak sesuai dengan nilai seharusnya. Namun masih ada upaya pelurusan kembali terhadap nilai-nilai Pancasila.Berdasarkan falsafah Pancasila, manusia Indonesia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang mempunyai naluri, akhlak, daya pikir, dan sadar akan keberadaannya yang serba
terhubung dengan sesamanya, lingkungannya, alam semesta, dan penciptanya. Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan lainnya. Kesadaran ini menumbuhkan cipta, karsa, dan karya untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya dari generasi ke generasi (Sumarsono dkk 2007).Kelangsungan hidup negara dan bangsa Indonesia di era globlalisasi, mengharuskan kita untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila, agar generasi penerus bangsa tetap dapat menghayati dan mengamalkannya dan agar intisari nilai-nilai yang luhur itu tetap terjaga dan menjadi pedoman bangsa Indonesia sepanjang masa.TINJAUAN PUSTAKA
Ideologi Pancasila dalam pemikiran radikal dan revolusioner
Perlu kita renungkan bahwa Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia diwarnai oleh berbagai ketegangan, konflik, dan konsensus bersama. Seperti apa yang telah kita ketahui, kondisi bangsa Indonesia dimasa kolonial selalu menempatkan masyarakat Nusantara sebagai pihak yang terkalahkan, menjadi pihak yang terbelakang, menjadi pihak yang dikesampingkan. Hal inilah yang mendorong munculnya banyak inspirasi tentang perumusan Pancasila. Bangsa Indonesai merasa bahwa harga dirinya diinjak injak oleh kaum kolonial. Kemudian, para kaum terdidik Indonesia, para pemuda Indonesia bergabung, membaur menjadi satu untuk melepaskan bangsa Indonesia dari tekanan atas kaum colonial. Para pendiri bangsa Indonesia berhasil keluar dari rutinitas pandangan hidup bangsanya melalui penalaran dan kontemplasi yang brilyan (Hariyono, 2014)
Kelemahan bangsa Indonesia yang nampak dalam menghadapi penguasa kolonial adalah lemahnya persatuan bangsa Indonesia. Dahulu masih sangat kurang kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan yang ada pada masyarakat sering dijadikan media pecah belah oleh penguasa kolonial. Masyarakat pribumi masih mudah untuk di adu domba antara satu dengan lainnya. Warga pribumi di Nusantara belum merasa dan menyadari dirinya sebagai sesama bangsa yang senasib dan seperjuangan, sebagai saudara, sebagai satu keluarga yang senasib akan jajahan dari penguasa kolonial. Sehingga beberapa tokoh pergerakan nasional, mulai dari Mr. Mohammad Yamin, Prof. Dr. Mr. Soepomo, Drs. Mohammad Hatta dan Ir. Soekarno, melihat bahwa rasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa inilah yang harus dikembangkan, yang harus ditanamkan, yang harus dipupuk di dalam jiwa masyarakat Indonesia.

Perlakuan ketidakadilan yang diterima masyarakat Nusantara menginspirasi adanya penghormatan terhadap ketidakadilan masyarakat pribumi yang diperlakukan tidak manusawi menuntut adanya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Secara kodratnya manusia memiliki hak dan martabat yang sama. eSetiap bentuk pemikiran, sistem hingga tindakan yang tidak menghargai dimensi kemanusiaan dan keadilan bertentangan dengan prinsip Pancasila. Di alam prinsip Pancasila tidak membeda-bedakankan manusia berdasarkan agama, ras, warna kulit atau budaya. Pandangan Pancasila mengakui adanya pluralisme yang memungkinkan berkembangnya suatu nasionalisme yang inklusif.Kehidupan masyarakat Indonesia cukup memprihatinkan akibat pemiskinan dan pembodohan oleh sistem kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Hanya melalui sistem yang humanis dan adil masyarakat Indonesia berpeluang untuk memperoleh kemakmuran. Masyarakat yang adil dan makmur bukanlah suatu mimpi yang diwujudkan tanpa dasar. Pancasila dirintis untuk menggapai tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Seperti yang telah tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 Alenia 4 bahwa tujuan bangsa Indonesia adalah
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa,
serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, hal tersebut akan terwujud jika masyarakat Indonesia terus mewarisi dan mengembangnkan nilai-nilai luhur yang digali dari dari sumber religioitas. Eksisitensi Tuhan sudah dikenal oleh masyarakat Nusantara dengan segala istilah dan ajaran. Toleransi terhadap perbedaan sikap banyak dijunjung oleh nenek moyang nusantara.
Berbagai nilai-nilai dasar tersebut mulai dirintis oleh tokoh – tokoh pergerakan nasional. Pada saat Ir. Soekarno menyebutkan dan merumuskan dasar negara yang ditawarkan dalam sidang BPUPKI tidak ada hadirin yang menolak. Karena semua hadirin merasa bahwa sudah saatnya Indonesia untuk bangkit dari penjajahan kaum kolonial. Berbagai nilai luhur tersebut sudah ada dan hidup di masyarakat Nusantara serta diperkaya dengan pemikiran dunia yang modern.Hariyono (2014) mengatakan bahwa kepentingan bangsa dan Negara selalu menempati posisi yang dominan dalam perumusan Pancasila sebagai dasar Negara maupun sebagai pandangan hidup bangsa. Sejak 1 Juni 1945 hingga 18 Agustus 1945 para pendiri Negara sedang berdiskusi mendalam tentang platform kehidupan berbangsa dan bernegara. Persatuan bangsa menjadi pertimbangan utama. Berkat penggalian nilai – nilai luhur itulah Pancasila hingga kini masih relevan dan cocok bagi bangsa Indonesia. Pokok fikiran Pancasila kemudian dijabarkan dalam Undang Undang Dasar 1945 yang diharapkan dapat menjadi pijakan dalam membuat tatanan kehidupan dan kebijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Prinsip-prinsip yang ada dalam Pancasila tidak semuanya berasal dari asing. Pancasila juga tidak semuanya berasal dari warisan nusantara. Para pendiri Negara telah mengolah kembali warisan nusantara dan memperkaya dengan warisan dunia sehingga muncul suatu rumusan Pancasila yang sangat cerdas dan visioner. Dari perpaduan budaya global dan warisan budaya yang luhur itulah berhasil dirumuskan Pancasila sebagai suatu dasar Negara sekaligus pandangan hidup. Hal itulah yang membuat Pancasila tetap berlaku hingga saat ini dan selamanya.Kita semua menyadari bahwa Pancasila sebagai Grundnorm/Staatsfundamentalnorm, yaitu pokok kaidah fundamental Negara masih berada dalam tatanan normatif. Pokok pikiran Pancasila kemudian dijabarkan di dalam UndangUndang Dasar1945 yang diharapkan dapat menjadi pijakan dalam membuat tatanan kehidupan dan kebijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.IdeologI Pancasila dalam Perspektif Global
Pancasila merupakan dasar negara dan pandangan hidup bangsa Indoesia. Sebagai dasar negara, Pancasila dijadikan sebagai dasar dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara diwujudkan dalam hukum nasional Indonesia, dimana Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum yang ada di Negara Indonesia. Sedangkan sebagai pandangan hidup bangsa, Pancasila dijadikan sebagai tuntunan bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan sehari – hari.
Ideologi memainkan peranan yang penting dalam proses dan memeliara integrasi nasional, terutama di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia (Ubaidillah, 2000). Istilah ideologi berasal dari kata idea berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita, dan logos berarti ilmu. Kata idea sendiri berasal dari bahasa Yunani eidos yang artinya bentuk. Selanjutnya ada kata idein yang artinya melihat. Dengan demikian secara harfiah ideologi berarti ilmu pengertian-pengertian dasar, cita-cita yang bersifat tetap yang harus dicapai, sehingga cita-ita yang bersifat tetap itu yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus merupakan dasar, pandangan atau paham (Kaelan, 2005).Kaelan (2005) menyatakan bahwa ideologi sebagai pandangan masyarakat memiliki karakteristik:
ideologi sering muncul dan berkembang alam situasi kritis;
ideologi memiliki jangkauan yang luas, beragam, dan terprogram;
ideologi mencakup beberapa strata pemikiran dan panutan;
ideologi memiliki pola pemikiran yang sistematis;
ideologi cenderung eksklusif, absolute dan universal;
ideologi memiliki sifat empiris dan normatif;
ideologi dapat dioperasionalkan dan didokumentasikan konseptualisasinya;
ideologi bisanya terjadi dalam gerakan – gerakan politik.

Sebagai suatu ideologi bangsa dan Negara Indonesia, maka Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana idelogi-ideologi lain di dunia, namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara, dengan kata lain perkatan unsur-unsur yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri, sehingga bangsa ini merupakan kausa materialis (asal bahan) Pancasila (Kaelan dan Achmad Zubaidi, 2007).

Ideologi berkaitan dengan tertib sosial, dan tertib politik yang ada, berupaya untuk secara sadar sistematis mengubah dan mempertahankan ketertiban masyarakat. Suatu pemikiran mendalam dan menyeluruh menjadi ideologi apabila pemikiran, gagasangagasan tersebut secara praktis difungsikan ke dalam lembaganlembaga politik suatu masyarakat, suatu bangsa, suatu Negara (Suparlan, 2012).

Pancasila sebagai ideologi nasional mengatasi paham perseorangan, golongan, suku bangsa, dan agama. Sehingga semboyan Bhineka Tungga Ika diterapkan untuk seluruh masyarakat Indonesia dalam kesatuan yang utuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pancasila sebagai ideologi nasional berupaya meletakkan kepentingan bangsa dan Negara Indonesia ditempatkan dalam kedudukan utama di atas kepentingan yang lainnya. Kedudukan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan Negara Indonesia, tercantum di dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus dilaksanakan secara berkesinambungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan, dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan dalam kehidupan, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Nilai nilai yang terkadung dalam Pancasila
Berikut ini adalah nilai-nilai dalam lima sila Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama ini adalah dimana kita sebagai manusia yang diciptakan wajib menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan – Nya. Masyarakat Indonesia berhak untuk memeluk agama dan kepercayaannya masing-masing dan wajib menjalankan apa yang diperintahkan dalam.agama masing-masing dan menjauhi apa yang dilarang.Sila pertama ini juga mengajak manusia Indonesia untuk mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang antar sesama warga Negara Indonesia, maupun dengan makhluk Tuhan yang lainnya. Dengan demikian, di dalam jiwa bangsa Indonesia akan timbul rasa saling menyayangi, menghargai, dan mengayomi.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama antara lain sebagai berikut :Keyakinan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa dengan sifatnya Yang Maha Sempurna.

Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan menjalankan semua perintah-Nya, dan sekaligus menjauhi segala larangan-Nya.

Saling menghormati dan toleransi antara pemeluk agama yang berbeda-beda.

Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Sila kedua ini menjelaskan bahwa kita sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa mempunyai derajat, hak, dan kewajiban yang sama dihadapan hukum.Dengan demikian, terkandunglah nilai-nilai sebagai berikut :Mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia.

Saling mencintai sesama manusia.

Mengembangkan sikap tenggang rasa.

Tidak semena-mena terhadap orang lain.

Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

Berani membela kebenaran dan keadilan.

Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari masyarakat Dunia Internasional dan dengan itu harus mengembangkan sikap saling hormat-menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Persatuan Indonesia
Makna persatuan hakikatnya adalah satu, yang artinya bulat tidak terpecah. Makna sila ke tiga adalah suatu wujud kebulatan Poleksosbud Hamkam ( politik, ekonomi, sosial, dan budaya, pertahanan dan keamanan ) dalam berbagai aspek kehidupan, yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan yang semuanya terwujud dalam suatu wadah, yaitu Indonesia.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga antara lain sebagai berikut :Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa serta Negara diatas kepentingan pribadi atau golongan.

Memiliki rasa cinta akan tanah air dan bangsa serta rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara.

Pengakuan terhadap keanekaragaman suku bangsa dan budaya bangsa dan sekaligus mendorong kearah pembinaan persatuan dan kesatuan Negara.

Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.Dalam sila ini menjelaskan tentang demokrasi, adanya kebersamaan dalam mengambil keputusan dan penanganannya, dan kejujuran bersama.Setiap orang Indonesia sebagai warga masyarakat, bangsa, dan Negara mempunyai hak, kewajiban, dan kedudukan yang sama dalam pemerintahan. Karena itu, setiap kegiatan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama terlebih dahulu selalu mengadakan musyawarah untuk mencapai mufakat. Musyawarah untuk mencapai mufakat tersebut dilakukan dengan semangat kekeluargaan sebagai ciri  khas kepribadian bangsa Indonesia.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila ke-4, yakni sebagai berikut :Kedaulatan Negara ada di tangan rakyat.

Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

Mengutamakan budaya rembug atau musyawarah dalam mengambil keputusan bersama.

Berembug atau bermusyawarah sampai mencapai konsensus atau kata mufakat diliputi dengan semangat kekeluargaan.

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.Makna dalam sila ini adalah adanya kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat, seluruh kekayaan dan sebagainya dipergunakan untuk kebahagiaan bersama, dan melindungi yang lemah.Adapun nilai – nilai yang terkandung dalam sila ke lima, yakni sebagai berikut :Bersikap adil terhadap sesama.

Menghormati hak-hak orang lain.

Menolong sesama.

Menghargai orang lain.

Melakukan pekerjaan yang berguna bagi kepentingan umum dan bersama
Globalisasi
Globalisasi merupakan gejala mengglobalnya sosio-cultural antar bangsa sehingga kultur antar bangsa di dunia seolah-olah melebur menjadi kultur dunia (global). Akibatnya hubungan antar bangsa semakin dekat.Globalisasi biasa dikaitkaitkan dengan kemajuan teknologi informasi, spekulasi dalam pasar uang, meningkatnya arus modal lintas Negara, pemasaran massal, peanasan global, era perusahaan multinasional hilangnya batas-batas antar Negara dan kian melemahnya kekuasaan Negara (Budiono, dalam Suparlan 2012). Globalisasi adalah proses penyebaran unsur – unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Khususnya, globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan di bidang komunikasi dunia Ada pula yang mendefinisikan globalisasi sebagai hilangnya batas ruang dan waktu akibat kemajuan teknologi informasi. Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar, seperti, selalu meningkatkan pengetahuan, patuh hokum, kemandirian, keterbukaan, rasional, kemampuan memprediksi, efisiensi dan produktifitas, serta keberanian bersaing, dan mamajemen resiko.Arus globalisasi tidak mungkin dihentikan. Berjalannya globalisasi tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penyebabnya. Dampaknya juga tidak bisa dihindarkan. Bagi masyarakat, bangsa dan Negara Indonesi, globalisasi memiliki dampak positif dan negatif.Adapun dampak negatif dan dampak positif globalisasi menurut Suparlan (2012) antara lain:
Dampak Positif Globalisasi bagi Indonesia :
Semangat kompetitif untuk mengikuti arus globalisasi suatu negara dituntut mampu bersaing di dunia internasional.

Kemudahan dan kenyamanan hidup globalisasi dengan kemajuan di bidang informasi, komunikasi dan transportasi telah memberi kemudahan dan kenyamanan masyarakat.

Sikap toleransi dan solidaritas kemanusiaan Informasi mengenai keprihatinan dan penderitaan sejumlah manusia di suatu Negara, memotivasi pemerintah di Negara lain untuk ikut membantu meringankan penderitaan yang dirasakan sesamanya.

Kesadaran dalam kebersamaan Toleransi dan solidaritas antar bangsa berkembang menjadi kesadaran dalam kebersamaan untuk mengatasi berbagai masalah, dimana ancaman dan bencana bagi keselamatan dunia sebagai satu-satunya planet tempa tinggal bagi umat manusia.

Menumbuhkan sikap terbuka Sikap terbuka ini untuk mengenal dan menghormati perbedaan, kelebihan, dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun bangsa yang hidup di wilayah Negara lain.

Globalisasi memberi tawaran baru globalisasi memberikan tawaran baru barupa kesematan untuk mengakses ilmu pengetahuan seluas luasnya melalui jaringan internet.

Terbukanya mobilitas sosial Kemajuan transportasi mendorong mobilitas sosial yang semakin terbuka dimana jarak tidak lagi menjadi permasalahan.

Dampak Negatif Globalisasi bagi Indonesia
Pergeseran nilai.

Sesuatu yang baru (nilai, teknologi, budaya, dan lainnya) dari asing secara tidak otomatis dapat diintegrasikan ke dalam kondisi individu atau masyarakat yang menerimanya.Pertentangan nilai.

Masuknya nilai-nilai baru dan asing yang tidak sejalan atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai luhur dari pandangan hidup masyarakat.Perubahan gaya hidup (Life style)
Berkurangnya kedaulatan Negara
Pemerintah harus mengakui dan bekerja di suatu lingkungn dimana sebagian besar penyelesaian masalah harus dirumuskan dengan memperhatikan dunia global.

METODOLOGI
Metodologi penetilian terhadap kasus – kasus seperti penyimpangan perilaku masyarakat Indonesia terhadap Pancasila akibat adanya globalisasi biasanya menggunakan statistik dari pihak – pihak survey yang terpercaya ataupun melakukan penelitian kepustakaan dengan menggunakan metode yang dapat diambil dari hasil pemutakhiran datanya.

Penelitian ini harus berdasarkan fakta-fakta dan data yang valid sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan pada waktu lampau. Landasan dalam penggunaan penelitian ini sebagai rujukan yang dapat
dipercaya dan mudah didapat agar penelitian yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian kepustakaan diperoleh dengan cara mencari buku buku referensi dari hasil penelitian ilmiah, skripsi atau lewat media internet khususnya masalah kenakalan remaja ini banyak yang membahas dan dapat diambil data yang valid.

Penarikan kesimpulan diambil berdasarkan data yang telah didapat secara utuh dan valid dan menghindari kemungkinan kepalsuan data yang kemudian dapat digunakan sebagai pedoman sebagai tujuan dasar penelitian ini.HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil survey, dapat dilihat bahwa kondisi masyarakat bangsa Indonesia saat ini dapat dikaji dan identifikasi dengan melihat prilaku dan kepribadian masyarakat Indonesia tercermin pada tingkah laku masyarakat Indonesia sehari-hari. Perilaku masyarakat Indonesia saat ini yang tidak sesuai dengan nilainilai Pancasila yaitu:
Penyimpangan sila pertama. Saat ini kita menjumpai generasi muda yang tidak bertaqwa kepada Tuhan YME. Misalnya: meninggalkan ibadah, melanggar peraturan agama, menganggap dirinya sebagai Tuhan atau Rasul, dan lain sebagainya.

Penyimpangan sila kedua. Sekarang ini kita temui diantara pemuda Indonesia yang tidak memanusiakan manusia lain sebagai mana mestinya. Misalnya: kasus pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan lain sebagainya
Penyimpangan sila ketiga. Memudarnya rasa persatuan dan kesatuan yang terjadi pada masyarakat Indonesia saat ini. Misalnya: tawuran antar pelajar, bentrok antar warga seperti perang sampit, bentrok antar suku seperti kisah perang sampit, dan lain sebagainya.

Penyimpangan sila keempat. Demokrasi selayaknya dilaksanakan dengan sehat. Fenomena yang terjadi saat ini masih adanya money politic di kalangan masyarakat yang biasa dijumpai pada saat pemilihan kepala desa, pemilihan bupati atau walikota.Penyimpangan sila kelima. Selanjutnya mengenai keadilan, banyak fakta-fakta mengenai ketidakadilan yang di lakukan oleh generasi muda bangsa Indonesia saat ini. Tidak perlu jauh-jauh, saat ini dapat kita lihat pada kelompok belajar kita saja sebagai faktanya. Dalam kelompok belajar PPKN misalnya, tugas PPKN membuat makalah secara kelompok ketidak adilan selalu kita rasakan. Hal tersebut karena sebenarnya yang mengerjakan tugas kelompok dari 8 anggota kelompok, hanya 3 orang saja dan yang lainnya tinggal nitip nama. Padahal ia menginginkan mendapatkan nilai yang sama. Sungguh ini adalah contoh kecil yang berada pada kehidupan para pelajar sehari-hari.Secara etimologis, istilah kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta budhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal, dengan demikian budaya berhubungan dengan budi atau akal (Suko Wiyono, 2013). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) budaya adalah (1) pikiran; akal budi; (2) adat-istiadat; (3) sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju); (4) sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar diubah.

Sedangkan menurut Koentjaraningrat dalam Suko Wiyono (2013) kebudayaan ialah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan melalui belajar. Dalam artian seperti tersebut di atas maka dibedakan wujud kebudayaan itu sebagai berikut:
wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks gagasan, nilai, norma peraturan dan sebagainya,
wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tndakan berpola dari manusia dalam masyarakat,
wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Berdasarkan pengertian di atas maka pembudayaan nilai-nilai Pancasila yang merupakan sumber dari karakter bangsa Indonesia, berarti perwujudan nilai-nilai Pancasila itu dalam:
gagasan, nilai, norma, dan peraturan,
aktivitas serta tindakan terpola dar manusia, dan
wujud hasil cipta manusia.

Pembudayaan nilai-nilai Pancasila tidak sekedar memahami saja, namun harus dihayati dan diwujudkan dalam pengalamannya oleh setiap diri pribadi dan seluruh lapisan masyarakat sehingga menumbuhkan kesadaran dan kebutuhan, mempertajam perasaan, meningkatkan daya tahan, daya tangkal dan daya saing bangsa yang semuanya tercermin pada sikap tanggap dan perilaku masyarakat.

Pembudayaan nilai-nilai luhur Pancasila perlu diupayakan pada berbagai kelompok masyarakat baik kelompok profesi seperti tenaga kerja, notaris, guru dan pengacara, kelompok fungsional seperti wanita, pemuda, dan lain sebagainya. Sejalan dengan upaya sedemikian rupa, diharapkan terdapat penghayatan dan pengalaman nilainilai luhur Pancasila di berbagai bidang kehidupan bagi seluruh masyarakat. Berkaitan dengan upaya pembudayaan karakter bangsa yang bersumber dari nilai-nilai luhur Pancasila, maka pendapat Suko Wiyono (2013) berpendapat bahwa hal yang ingin dicapai dalam pembudayaan adalah sebagai berikut:
Masyarakat yang memiliki kesadaran yang tinggi akan hak dan kewajiban sebagai pribadi, anggota keluarga/masyarakat, dan sebagai warga Negara.

Sebagai pribadi ia dapat bersikap dan bertingkah laku sebagai insan hmba Tuhan, yang mampu menggunakan cipta, rasa, dan karsa secara tepat, sehingga dapat bersikap adil. Ia adalah seorang yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesua dengan agama dan kepercayaan masing-masing.
Sebagai anggota keluarga dan masyarakat ia mampu mendudukkan dirinya secara tepat sesuai dengan fungsi dan tugasnya. Ia faham dan mampu menempatkan hak dan kewajiban dalam hidup bersama.

Sebagai warga Negara ia diharapkan faham akan hak dan kewajibannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, patuh melaksanakan segal ketentuan perundang-undangan yang didasarkan atas kesadaran. Sebagai warga Negara mampu membawa diri secara tepat dalam behubungan dengan sesama warga Negara, dan dengan lembaga-lembaga kenegaraan.
Sebagai tenaga pembangunan maka ia memahami prinsipprinsip dasar program dan peaksanaan pembangunan, baik pembangunan di daerah maupun pembangunan nasional. Ia faham kegiatan apa yang selayaknya dikerjakan dan diutamakan dalam menciptakan masyarakat yang adil, sejahtera, dan bahagia.

KESIMPULAN DAN SARAN
Pancasila merupakan dasar Negara dan pandangan hidup bangsa Indoesia. Sebagai dasar Negara, Pancasila dijadikan sebagai dasar dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Arus globalisasi tidak mungkin dihentikan. Berjalannya globalisasi tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penyebabnya. Dampaknya juga tidak bisa dihindarkan. Bagi masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia, globalisasi memiliki dampak positif dan negatif.Pembudayaan nilai-nilai luhur Pancasila perlu diupayakan. Diharapkan terdapat penghayatan dan pengalaman nilai-nilai luhur Pancasila di berbagai bidang kehidupan bagi seluruh masyarakat.DAFTAR PUSTAKA
Al-Hakim, Suparlan, dkk. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks Indonesia. Malang: Universitas Negeri Malang
Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila Roh Progresif Nasionalisme Indonesia. Malang: Intans Publishing
Kaelan, & Zubaidi, Ahmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Paradigma
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Online diakses pada tanggal 18 April 2018
Pranata, Dennys. 2017. Pancasila Dalam Konteks Modern. Jurnal Kependidikan
Sumarsono, dkk. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama